Dear God, count me in.

what a year.

itu kalimat yang terngiang terus-menerus di kepala saya. tahun ini, bianglala yang saya naiki membawa saya di titik-titik terendah maupun tertinggi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. mungkin inilah yang dinamakan perjalanan menuju level yang lebih tinggi, tingkat kedewasaan yang tidak akan pernah sama di tahun sebelumnya.

buat saya, dewasa itu bukan tujuan, tapi akan selalu proses. dan banyak kejadian membawa saya banyak berfikir dan akhirnya membuat saya bertanya sore tadi: apakah saya sudah siap melihat dan menjalani proses selanjutnya? pertanyaan ini menghantui saya seharian ini karena film tentang setahun ke belakang benar-benar membuat saya, kehilangan kata-kata.

satu, saya menyadari bahwa selama ini saya punya kembaran di luar sana.
iya, mungkin terdengar bodoh, konyol, drama apalah itu, tetapi saya benar-benar memiliki kembaran. bukan, bukan kembar yang lahir dari orang tua yang sama. kenapa saya berani mengatakan dia adalah kembaran saya dan sebaliknya, adalah karena kami terlalu sama untuk tidak disebut sebagai kembar. perjalanan kami, apa yang kami rasakan, apa yang kami pikirkan, dan apa yang berusaha kami lupakan. bahkan, kami sampai di titik merasa aneh karena sebegitu samanya kami.

walaupun begitu, bukan berarti perjalanan kami mulus layaknya pantat bayi *maafkan penggunaan kiasan saya*. hidup kami berdua penuh drama. dari kesalahpahaman, teriakan, tangis, makian, you name it. tetapi lucunya, kami tidak pernah bergerak kemana-mana alias tidak saling meninggalkan. saya ingat betul satu saat pembicaraan kami yang membuat saya begitu bodoh karena mempertanyakan keberadaan dia di hidup saya.
saya : do you still need me, ta?
dia   : should you ask?Ta, I dont need you. soalnya lo itu udah jadi bagian.
dan saya meraung-raung karena merasa tolol hahaha.

dua, banyak jendela, bahkan pintu yang terbuka.
saya selalu mengibaratkan manusia itu seperti rumah dengan segala elemen pentingnya, seperti pintu dan jendela. tidak semua jendela atau pintu bisa kita buka begitu saja karena jelas kita perlu izin yang empunya rumah. kenapa saya bilang banyak jendela pintu dan jendela yang terbuka, itu karena banyak orang yang mulai mempercayakan saya untuk masuk ke rumah mereka. dari teman lama, atau bahkan sekedar teman tertawa. mungkin karena saya segitu jagonya buat menarik hati mereka kali ya? *tsaaah* tapi entahlah. saya yang memiliki kelemahan yaitu sulitnya untuk merasakan sesuatu membuat saya sering merasa lucu dan lalu bertanya, inikah rasanya menjadi manusia? *iya kalo katanya kembaran saya, saya mutan. mutan hamster. haha.* well, rasanya menyenangkan ya?

tiga, membuka mata dan ternyata ada dia.
dia ini, ah saya lagi-lagi kehilangan kata-kata. contohnya? saya, meraung-raung alias mewek di sepanjang perjalanan salemba-bekasi suatu malam ditemani lagu katy perry yang the one who got away karena sedih mengetahui fakta saya yang senior akan lulus dan tidak mungkin melihatnya setiap hari lagi. gila? iya. drama? BANGET. hahaha.

iya, setelah sekian lama tidak merasakan yang namanya deg-degan karena laki-laki, akhirnya hati saya berasa lagi. tapi ya itu, lagilagi saya hanya bisa berkata mustahil. selain semakin kecilnya peluang untuk tahu dia lebih banyak, siapa juga yang mau sama hamster betina yang ternyata mutan ini?

ahhh, bisa ga selesai-selesai nulisnya kalo saya lanjutin terus apa yang terjadi setahun ini. yang saya tahu, saya melihat dan merasakan banyak hal. intinya berusaha untuk menjadi manusia. bianglala itu membawa saya ke perjalanan naik turun yang tidak pernah berhenti. bertemu banyak orang, orang-orang tetap tinggal walaupun saya terus berubah-ubah mencari jati diri, perpisahan karena terlalu lelah menghadapi saya yang begitu-begini, judgement, kehilangan yang membuat saya bertanya tentang masa depan.

dan kemudian saya teringat ucapan kembaran saya suatu malam. let's enjoy the ride, twins.


well, you are right, twins.